Rabu, 09 Oktober 2013

Kumbang Metropolitan : Perubahan besar kehidupan anak jalanan

Iseng2 bikin cerpen tema sosial nih.. jangan lupa kasih komentar dan masukan ya...


 Kumbang Metropolitan : Perubahan besar kehidupan anak jalanan

"Jreng..jreng..jreng... Aku yang dulu, bukanlah yang sekarang, dulu di tendang sekarang ku di sayang." Siang itu di dalam metro-mini jurusan terminal Lebak Bulus, Ari sedang melatunkan lagu "khas" pengamen jalanan yang sangat populer itu. Ari adalah anak jalanan sebatang kara. Orang tua nya telah cerai sejak Ari berusia 5 tahun. Ari di asuh ibu nya sampai ia remaja. Ibu nya meninggal pada usia Ari ke-14 karena sakit nya yang parah dan tidak bisa di terima di rumah sakit. Bersama teman-teman nya Ari mengamen di bis,metro mini, dan angkutan umum lainnya. Kumbang metropolitan yang menjadi korban kemunafikan, mereka selalu tetap berbahagia bersama-sama walaupun tidak punya apa-apa.
Saat mereka mengamen di dalam angkutan umum, seringkali Ari melihat-lihat indahnya gedung-gedung sekitar, pria ganteng dan wanita cantik, mobil yang lalu-lalang, remaja-remaja SMA yang baru saja pulang sekolah, ada yang saling berlari tertawa di sepanjang jalan, ada juga yang lagi malu-malu untuk menyatakan cinta nya di taman, ada juga yang masih dijemput oleh kedua orang tuanya. Melihat itu semua membuat Ari sangat iri dengan kehidupan tersebut. Terkadang ia mengeluh dan berkata "Hidup ini tidak adil!". Tak jarang pun juga ia menangisi kedua orang tua nya.
Hari semakin sore, setelah berpindah-pindah bis,metro-mini dan bernyanyi berkali-kali, mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menghitung hasil ngamen hari ini. Sambil menunggu, Ari dan Doni mencari makan dan minum. "Di warung situ aja don" , sambut Ari. "Iya ri, disana enak murah lagi", sambung Doni. Setelah membeli beberapa bungkus, akhirnya mereka kembali untuk makan bersama. Terlihat tawa mereka, tawa "khas" anak jalanan yang sangat membuat kita terenyuh ketika melihatnya. Dengan bahagia mereka menikmati hasil jerih payah mereka sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Tidak ada lagi tempat mengadu selain Tuhan. Anak jalanan adalah cerminan kehidupan sebenarnya di dunia ini, tak sadar kebanyakan dari kita sejak kecil telah di asuh oleh keluarga yang berkecukupan, orang tua yang lengkap, rumah yang nyaman dan pendidikan yang layak malah membuat kita malas untuk belajar, mengecewakan orang tua dan hidup hanya untuk bersenang-senang.
Beberapa menit sembari mereka menikmati makannya, tiba-tiba ada teriakan salah satu teman Ari... "Larii...larii... !!", Doni berteriak. "Ada apa Don ?" bingung teman-temannya. "Ada satpol PP!!" , balas Dani. Terlihat wajah-wajah polisi pramong praja itu turun dari mobilnya mengejar Ari dan teman-temannya. Tanpa berkata-kata lagi, segerombolan kumbang metropolitan itu pun langsung berlomba lomba berlari menyelamatkan diri, masing-masing berpencar dan akan bertemu di tempat biasa.
30 Menit Kemudian…

"Huuhh...hahhh...huuhhh..haahhh" nafas Ari terenggah-enggah, "Untung kamu cepet kasih tau tadi, kalau tidak kita bakal diciduk.". "Iya ri, lain kali kita kalau istirahat jangan disana, bahaya", sambung Doni sebari mengambil nafas. Dunia memang keras, apalagi untuk seumuran Ari dan teman-temannya, yang masih butuh pendidikan dan kasih sayang orang tua, harus sudah bertahan melawan kerasnya hidup di jalanan.
Hari terus berjalan mewarnai kehidupan anak jalanan, hingga Jakarta menjadi kota metropolitan yang pergaulannya sangat bebas, pengaruh kerusakan-kerusakan, pengedaran obat-obat terlarang, premanisme, pencopetan, pencurian, timbulnya penguasa penguasa di jalanan membuat Ari dan teman-temannya tidak sengaja bertemu oleh sesorang bernama Barok, preman terkenal yang sangat garang. Barok adalah salah satu preman yang di segani di daerah Jakarta saat itu. Barok bertemu Ari dan teman-temannya saat mereka mengamen di perempatan jalan. Barok saat itu memang sedang mencari anak-anak jalanan untuk dipekerjakan olehnya, karena mencopet sendiri telah membuatnya capek. Barok memaksa Ari dan teman-temannya untuk bergabung menjadi anak buah, melihat teman-teman Barok yang sangat menakutkan akhirnya mereka mau tidak mau harus menuruti kemauannya. Mereka pun dididik untuk mencuri,mencopet dan mencari uang dengan segala cara. Membuat Ari dan teman-temannya mau tak mau harus melakukan itu semua, atau mereka akan di siksa.
Hari pertama, hari kedua, hari ketiga mereka mencopet semuanya lancar, Barok dan anak buahnya mempunyai basecamp gedung tua di daerah Kota Tua, disana Ari dan gerombolannya diberi makan seadanya dan diberi tempat tidur, walaupun tempatnya memang sangat tidak layak. Padahal hasil mencopet mereka sangatlah lumayan, belum lagi Ari dan teman-temannya berjumlah kurang lebih 20 orang. Lingkungan anak-anak jalanan yang "bejat" membuat sifat dan perilaku Ari menjadi sangat liar, tak jarang Ari bertengkar dengan teman-temannya, Ari juga sekarang pandai sekali dalam mencopet.
"Silahkan..silahkan semua diskon 50%, tas, topi, baju. Sayang anak, sayang anak....", sahut penjual-penjual disekitar. Rio sedang berjalan-jalan di pasar saat itu. Rio adalah sarjana ekonomi yang telah menganggur 1 tahun lebih, sambil merenungi kehidupannya, ia pun duduk dan melihat-lihat sekitar. Hingga pandangannya berhenti pada suatu anak kecil yang sedang mencoba mengambil dompet pembeli-pembeli sekitar, dia adalah Ari. Rio pun mengikuti anak tersebut dengan bersembunyi-sembunyi, sayangnya tak berlangsung lama Ari mengetahui bahwa ada seseorang yang membuntutinya, akhirnya Ari berlari semakin kencang. Rio terus berlari mengejar Ari sampai ia sampai ke suatu gedung kosong, bangunan lama yang sangat menakutkan walaupun di siang hari. Sampai akhirnya Ia menghentikan pengejarannya ketika Ia tahu sudah dikerubungi pencopet-pencopet dan tak absen pun ketua mereka, Barok.

Kucing masuk ke kandang singa, Rio masuk ke markas Barok dan anak buahnya. Karena tak mau babak belur, akhirnya Rio beralasan mengikuti Ari karena memang penasaran, dia berbasa-basi sana sini agar bisa mengeles. Rio juga beralasan ingin membantu Barok dan anak buahnya dalam mengatur keuangan usaha copet nya agar Barok bisa semakin mendapatkan apa yang ia impikan dan merubah kehidupannya lebih baik. Setelah bersusah payah meyakinkan Barok , akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan Rio untuk mengatur keuangan mereka. Rio pun akhirnya pulang kerumah.
Berawal dari alasan, Rio pun ternyata semakin minat dan bersemangat untuk membantu Barok, pikir-pikir daripada dia menganggur, ia juga bisa melakukan sebuah perubahan dalam kehidupan anak jalanan nantinya. Besoknya, Rio pun ke salah satu bank untuk mendaftarkan rekeningnya Barok. Rio juga banyak berbicara ke Barok bahwa dengan menabungkan hasil copetnya ke bank akan sangat mempermudah keuangannya, ia juga bisa menabung uangnya. Barok sempat tidak percaya atas semua itu, tapi setelah berbulan-bulan, setiap pemasukan selalu di atur oleh Rio dan pastinya sisanya ditabung di Bank , membuat Barok beberapa bulan sedikit tersenyum, karena sekarang tabungannya telah mencapai 20 juta. Berita itu sempat membuat Barok tersenyum,karena dalam hidupnya ia tidak pernah mempunyai uang sebesar itu. Rio pun semakin bersemangat lagi untuk merubah kehidupan anak-anak buah Barok. Ia akhirnya mempunyai ide yang sangat cemerlang dengan merubah pekerjaan anak-anak buah Barok.
"Hah? jadi pedagang asongan?", kaget Barok. "Mana mau mereka?", balasnya. Bergaul dengan Rio membuat Barok semakin hari semakin berfikir dewasa, Rio mengajak tabungan 20 juta tersebut digunakan sebagai modal untuk anak buah Barok berdagang asongan. "Dengan berdagang asongan kita semakin jauh dari dosa dan penjara, mencopet terlalu beresiko dan tidak menjanjikan", Rio mencoba meyakinkan Barok. Sempat berfikir akhirnya Barok pun setuju untuk melakukannya, karena memang ia sadar bahwa mencopet tidak bisa bertahan lama, bangkai kalau di sembunyikan dimana pun pasti akan tercium juga, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Barok sadar walaupun sejauh ini mereka tidak pernah tercium bau polisi, suatu saat pasti akan basecampnya terkena "grebek".
Barok mengumpulkan anak-anak buahnya, termasuk Ari untuk mendengarkan sebuah rencana baru dari Rio. Banyak dari mereka yang tidak setuju dengan usul Rio. Barok juga membantu Rio untuk meyakinkan mereka dan akhirnya mereka mau untuk menjadi pedagang asongan. Hari pertama,kedua,ketiga tidak ada hasil dan mereka hampir menyerah , karena memang menjadi pedagang tidak semudah yang dikira. "Lebih enak menjadi pencopet!!" , sahut salah satu anak buah Barok. Barok malah memarahi mereka-mereka yang membantahnya. Bulan demi bulan hingga genap 1 tahun sudah mereka berdagang asongan,mereka pun mulai menikmatinya. Karena jumlah mereka yang cukup banyak membuat hasilnya cukup memuaskan.
Pedagang Asongan jalanan terus berusaha mencari nafkahnya hingga masing-masing dari mereka beranjak dewasa. Sudah berjalan lebih dari 5 tahun mereka menjadi pedagang. Untuk memperbaiki usahanya, Rio pun meningkatkan usaha asongan menjadi toko-toko kecil yang diurus masing-masing 2-3 orang dan disebar di daerah kota Jakarta. Sekarang rata-rata dari mereka sudah berumur 18-20 tahun. Barok pun juga semakin tua, sehingga dipilihnya Ari menjadi wakilnya untuk memimpin teman-temannya.
Rio terus memutar otaknya untuk membuat usaha ini terus berjalan, sesampai Rio melihat fenomena mini-market yang menjamur di kota-kota. Rio pun mengajak Barok untuk meningkatkan usaha nya menjadi mini-market bernama "pickmart" yang awalnya berfilosofi berasal dari kata "pickpocket" yang berarti "pencopet" dalam bahasa inggris tapi diartikan lebih baik menjadi "pick" yang berarti "memilih" yang artinya pelanggan bebas memlih barang yang ia suka dengan harga yang murah.
Hanya 3 tahun, Pickmart cepat sekali berkembang, ia semakin sukses dan cabangnya semakin menjamur hingga ke negeri tetangga. Karena intensitas Ari dan Rio yang sering ke bank untuk urusan keuangan, Ari bertemu dengan salah satu pegawai teller yang sangat menarik hatinya. Setelah Ari melakukan perkenalan dan beberapa pendekatan, beberapa bulan kemudian, dia menikahinya. Karena siapa yang tak mau dengan eksekutif muda seperti Ari ? Sekarang ia terlihat gagah dengan mengenakan jas dan mobilnya. Ia juga mempunyai salah satu rumah di dekat kantor Pickmart sendiri, di daerah Pondok Indah.
Hari-hari baru nya berjalan lancar, semua pegawai-pegawai Pickmart tersenyum semangat bekerja, pelanggan-pelanggan Pickmart juga semakin banyak. Ari sedang di kantor saat itu, tidak di minimarket. Kebetulan kantor Ari sedang membuka lowongan pekerjaan untuk Cleaning Service atau CS. Setelah beberapa hari pengumuman itu menyebar, terdengarlah sesampai ke orang setengah baya yang sedikit lusuh mencoba melamar di kantor Ari. Kebetulan Ari sendiri yang langsung meng-interview. Orang tua itu sedikit tertegun saat melihat Ari yang rapi dengan jasnya duduk di belakang meja.  "Ada apa pak?", Ari sedikit heran. "Oh tidak apa-apa nak",balasnya.
Saat melihat data-data orang tersebut, Ari terhenti saat melihat namanya. "Samsul Wijaya", "Dengan pak Samsul Wijaya?" Ari memulai wawancara. Ari sedikit kaget melihat nama itu karena kebetulan nama belakang Ari adalah "Ari Wijaya" ia ingat di akta kelahiran dan ia juga sering diceritakan oleh Ibunya. Ia adalah anak dari "Samsul Wijaya" dan "Ira Wijaya" , Bapak dan Ibu Ari. "Bapak?" Ari sedikit bingung dan mencoba memastikan , "Ini Ari anakku toh? ya Allah sudah besar" mereka pun berpelukan lama mencurahkan rindu dan akhirnya Pak Samsul,ayah Ari tidak jadi diterima oleh Ari menjadi CS tapi langsung di ajak ke rumah Ari yang mewah dan dikenalkan oleh istri,dan anak-anaknya. Mereka pun memulai hidup baru yang lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More